Menulis dan Velocity

Menulis di platform blog seperti ini rasanya bukan menjadi aktivitas populer yang masyarakat sekarang lakukan. Lain dulu lain sekarang. Dulu menulis diperlombakan dan dijadikan salah satu alat ukur kompetensi seseorang. Namun, nampaknya sekarang aktivitas ini sudah kalah dengan platform populer lain yang lebih mudah, mendapatkan banyak atensi, dan tentunya menarik. Sebut saja Tiktok dan Velocity-nya. 

Memerlukan mood, ketenangan pikiran, dan fokus untuk menuangkan pikiran ke dalam tulisan. Buktinya saya pribadi cukup bisa menunda untuk menulis tesis yang tidak terasa hampir 2-3 semester tidak melakukan apa-apa. Hanya karena tidak mendapatkan ilham dan juga dorongan untuk menulis. Akan tetapi, ketika sudah fokus, mungkin kurang dari satu semester karya tersebut langsung selesai. Ada banyak hal yang terlibat dalam menjadikan sebuah tulisan itu utuh dan selesai. Meskipun ganjarannya tidak semenarik, sebanyak, dan secepat membuat konten yang bisa membawa kreatornya viral dan diundang di layar kaca. Ya paling jauh juga bisa lulus kuliah, masuk jurnal, selanjutnya ya sudah. Dalam hal ini secara nilai ekonomi mungkin jauh lebih tidak ada. 

Akan tetapi, menulis adalah yoga pikiran yang gerakannya dilakukan di atas keyboard atau pena kertas. Setelah geram mengusir rasa tidak mood dan malas, ada suatu kebahagiaan tersendiri. Ada rasa puas untuk bisa menyampaikan titik demi titik hingga jadi paragraf yang mungkin tidak populer dan dibaca banyak orang, tetapi bagi penulis menjadi karya yang bisa membawa pemikirannya keluar dari pikirannya. Tidak ada ganjaran ekonomi yang menjanjikan tetapi ada rasa puas yang mungkin tak tergantikan. 

Lalu, bagaimana menyikapi zaman yang lebih memuliakan konten Tiktok joged velocity daripada menulis ? Menurut saya hal ini bukan sebuah negasi satu sama lain. Bukanlah anoman yang melawan arjuna. Kedua hal ini tetap bagus dan menurut saya sebuah keniscayaan untuk menolak tren. Untuk menjadi manusia yang tidak hanya budiman tetapi juga relevan kita juga harus membadani tren ini secara bijaksana. Justru menulis bisa menjadi kekuatan yang menjadikan sebuah tren joged menjadi narasi dan dari narasi menjadi pesan yang dapat bermanfaat bagi orang yang melihat. Ditulis di malam ganjil 29 Ramadhan untuk meresonasikan bahwa kita harus saling berpesan dalam kebaikan dan dengan kesabaran. Ada poin kesabaran dari setiap pesan baik yang ingin disampaikan. Jika tidak maka bukan perbaikan yang ada, akan tetapi justru ketidak harmonisan. 

Comments

Popular Posts