Raja Ampat dan Raja Nikel

Di berita banyak diperbincangkan perihal Raja Ampat yang terkenal dengan keindahan alam bawah lautnya terancam rusak karena adanya aktivitas hilirisasi nikel. Bagi saya yang belum pernah ke Raja Ampat dan mengambil jurusan IPS pada saat SMA, berita ini tidak mudah relate. Sampai ketika saya menyelami informasi yang menunjukkan bahwa dunia menjuluki Raja Ampat “The last paradise on earth” karena hampir 75% biota laut ditemukan di sini. Bukan julukan yang main-main, Raja Ampat dihargai oleh dunia dengan sendirinya dari keindahannya yang luar biasa. Sementara itu, di negeri sendiri dihargai sebatas laporan keuangan beberapa perusahaan nikel yang mulai meletakkan jangkarnya di sini untuk horizon beberapa tahun saja. Masuknya era electric vehicle (EV) telah menjadikan nikel primadona baru yang laku keras juga untuk dunia. Di sinilah dilema terjadi dan manusia yang berbudi luhur diuji kebudiannya. 

Menurut saya, hal ini selalu beradu banteng antara prioritas profit dan sustainability. Exploitasi pertambangan nikel tentunya mengancam keberlanjutan keindahan alam yang sudah dijuluki “The last” di dunia. Bisa jadi kepentingannya seharusnya tidak hanya Indonesia, tetapi dunia karena biota-biota laut yang indah yang pernah dilihat wisatawan Raja Ampat akan tinggal cerita bagi anak cucu kita. Di sisi lain, kita hidup sekarang dan nikel tidak dimungkiri juga paling tidak “menghidupi” para pekerja di sana. Dan pasti tidak sedikit nilainya. Di tengah incaran dunia karena nikel menjadi bahan dasar EV, pastinya sediambil-ambilnya golongan tertentu, para pekerja yang biasanya serabutan kemudian mendapatkan lapangan kerja tetap mungkin lebih tersenyum kantongnya dan bisa beralih dari kaum hidup dari sachet ke sachet yang lain ke format konsumsi yang lebih besar. 

Konsep dasar keberlanjutan yang banyak dikutip yaitu Profit - People - Planet memberikan konsep bahwa planet berikatan dengan profit. Jika planet terjaga, tetapi profit untuk bertahan hidup tidak ujung-ujungnya juga tidak akan berlanjut. Jadi, saran saya hal ini perlu dipertimbangkan secara komprehensif. Kekayaan alam menjadi satu modal kita yang besar, tetapi jangan lupakan juga kita juga kekayaan pikiran di masing-masing pribadi yang berbudi ini. Dengan demikian, profit bisa digali dari ide, nikel bisa digali di daerah yang memang peruntukannya dan dilakukan secara tanggung jawab, serta harapannya masyarakat Raja ampat bisa tentram hidup secara berlanjut juga. 

Comments

Popular Posts