Ku Kira Pertamax, ternyata Pertalite
Sampai sekarang saya masih percaya bahwa perusahaan minyak paling besar di Indonesia adalah Pertamina dan yang kedua adalah Pertamini. Selain hampir perusahaan minyak satu-satunya yang menyuplai BBM sampai ke pelosok negeri. Pesona pegawai Pertamina telah tidak diragukan lagi oleh para calon mertua. Mapan, Golf, dan Moge sudah tidak bisa dipisahkan lagi.
Akan tetapi, akhir-akhir ini berita heboh mengguncang jagat maya dan juga nyata. Ada 7 tersangka yang ditetapkan dalam kasus korupsi yang merugikan negara sekitar 197 Triliun. Ini bukan hasil pengukuran kolesterol jahat, tetapi jumlah uang jahat yang mengalir ke beberapa orang saja. Sekali lagi triliun. Ini setara dengan 5 tahun bisnis perusahaan FMCG. Sangat besar.
Munculnya berita tersebut membuat publik menyampaikan sumpah serapah yang luar biasa. Di tengah momentum pemaksaan masyarakat untuk membantu pemerintah dengan membeli Pertamax, ternyata justru tertipu dengan BBM yang tetap memakan subsidi dan bukan berkualitas sesuai ekspektasi. Sebelum membahas berbagai pertanyaan skeptis apakah hal ini benar-benar terjadi. Mau bagaimanapun juga Monopoli itu ada, Kesulitan akses bagi pemain baru di BBM ada, orang yang merasakan kualitas Pertamax dan mengetes ada, dan pegawai yang kekayaanya tidak masuk akal itu juga ada.
Beberapa waktu yang lalu saya merasa mobil saya yang memang mensyaratkan pengisian BBM minimal RON 92 terasa tidak enak ketika dikendarai. Tarikan lebih enteng memang hanya sebuah sugesti yang saya juga tidak begitu masalah karena biasa hanya dipakai untuk jarak-jarak pendek saja. Tetapi yang membuat saya bertanya-tanya adalah mesin yang jadi “ngeklek” ketika diisi Pertamax. Kebetulan di tempat tinggal saya banyak pilihan SPBU seperti Shell dan BP. Biasanya pun saya sebisa mungkin mengisi BP. Tetapi karena jaraknya lebih dekat SPBU Pertamina, beberapa waktu rajin mengisi Pertamax dan dampaknya seperti itu. Dan setelah saya beralih kembali ke Shell dan BP, keluhan mesin mobil tersebut langsung hilang. Berarti pemahaman awam saya masih melihat terdapat sesuatu dari Pertamax yang dipasarkan.
Nah, kemudian apakah masuk akal kasus korupsi tersebut terjadi ? Ya, masuk akal. Menurut saya baik secara pencatatan dan operasional yang diselewengkan mungkin saya terjadi. Secara pencatatan yang mengakui di buku lebih tinggi untuk spesifikasi yang lebih rendah saya rasa modus yang sangat payah. Profil pegawai dan infrastruktur kontrol yang ada di Pertamina sebagai perusahaan minyak yang diawasi oleh SKK Migas dan rutin diaudit oleh Big 4 semestinya keanehan itu akan mudah tertangkap dari ketidaksesuaian buku dengan stok fisik. Jika disampaikan dari 2018-2023 hal ini terjadi dan tidak tertangkap rasanya sangat aneh sekali. Dan pun iya berarti berarti kasus ini menyeruak karena ada pihak di dalam sindikat tersebut yang kecewa.
Modus yang lain dari korupsi ini mungkin bisa dilakukan dengan penyelewangan di operasionalnya saja. Saya tentuya awam dengan standar kualitas dan regulasi dari penyaluran minyak. Akan tetapi, melihat rantai pasok yang sangat panjang dan sangat tersebar luas, bukan tidak mungkin kerjasama/suap/tender nakal terjadi. Di tambah lagi, tidak semua orang memiliki pemahaman produk dan perminyakan dengan baik. Dengan demikian, sangat mungkin jika seseorang menerima minyak yang tidak sesuai spesifikasi meskipun ketika dikirim sudah melalui cek kualitas sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Kasus ini dapat benar-benar membuka mata masyarakat untuk dapat lebih kritis dalam menyikapi pemerintah. Bagaimanapun dalih kasusnya, hal yang pasti kasus ini merugikan masyarakat. Bisa jadi tidak dalam bentuk yang sederhana seperti kasus bansos Covid dimana seharusnya yang disalurkan 200 disunat menjadi 100. Akan tetapi, dampak dari hal ini membuat APBN membengkak sehingga dana untuk kemaslahatan umat yang lebih luas terpotong. Akhir kata, marilah kita berharap semoga Indonesia makin baik saja.
Comments
Post a Comment