"We don't know what we don't know" mungkin kiasan itulah yang dapat menggambarkan sebagian besar rakyat Indonesia saat ini. Kita tidak tahu apakah kondisi-kondisi aneh yang nyata terjadi di sekitar kita akan memberikan dampak seperti apa di kemudian hari. Mari kita usut satu per satu. 

Menjelang titik kulminasi hegemoni Pak Mulyono, seolah-olah pemerintah lagi BU banget. Seolah terjerat pinjol dan judol seperti masyarakatnya, berbagai kebijakan unik digaungkan meskipun tidak semuanya benar-benar dijalankan. Tetapi, yang menjadi pertanyaan, komunikasi politik seperti apa yang dilakukan pemerintah sehingga kebijakan-kebijakan aneh dan mencekik rakyat, sebut saja Tapera, kenaikan PPN, asuransi mobil, perubahan skema subsidi, dan lain sebagainya, ada untuk dijadikan bahasan ngalor-ngidul orang berbagai kalangan saja. Yang kalangan orang pinter dibahas pakai teori-teori, dan kalangan yang biasa saja membahas apa yang dikatakan oleh orang pinter. Sama-sama tak berujung, tapi lumayan bisa memberi imej kita bisa berbicara soal itu berarti kita relevan. 

Belum lagi, sosmed juga dipenuhi dengan 'bau-bau' tidak sedap dari berbagai isu di istana. Tidak penting untuk dibahas, tapi cukup menyita perhatian juga. Sebut saja, bagaimana kerabat istana berkelit bahwa "nebeng" memiliki arti yang baru dimana private jet tebengan dipakai tanpa pemiliknya. Maksud saya begini ketoprak indomie, motor supri x ember jadul aja yang namanya nebeng itu yang punya biasanya ikut. Ikut di depan atau di belakang bukan menjadi soal. Tetapi kalo terlalu di belakang, sepertinya patut dipersoalkan. 

Tak cukup menampung bahan gosip receh itu saja, gempuran persoalan ekonomi yang mengindikasikan bahwa sudah 5 bulan berjalan deflasi terjadi. Mungkin tidak mudah dipahami dan memang tidak langsung dapat disimpulkan. Karena pada dasarnya deflasi adalah hitungan matematis kenaikan harga dan penurunan harga yang pastinya banyak variabel yang patut dipertimbangkan. Tetapi, di satu sisi hororisasi peristiwa deflasi yang disandingkan dengan kejadian 1998 membuat rakyat tambah tidak bisa mencernanya. 

Bagi saya pribadi, betul memang pelajaran Ekonomi SMP saja, penurunan harga menjadikan indikator yang kurang baik (biasanya). Karena teori pasar mengatakan semakin banyak penawaran dibandingkan permintaan, maka harga akan turun. Tetapi dalam kondisi yang lebih kontekstual, tentunya tidak secepat itu bisa disimpulkan. Kita perlu kaji lebih lanjut turunnya permintaan karena apa dan tingginya penawaran karena apa. Sederhana, tapi ini melibatkan berbagai keputusan yang saling berkaitan di semua lini. Bisa jadi penawaran yang banyak, karena perencanaan yang kurang tepat. Atau bisa jadi mengkhawatirkan jika perencanaan produksi sudah tepat, namun tidak dibeli karena konsumen tidak memiliki daya beli yang kalo saat ini maraknya kenaikan potongan-potongan pemerintah dan jeratan judol pinjol bisa menjadi jawaban yang relevan. 

Di tengah banyak ketidak pastian, yang mungkin hal ini tidak lebih baik dari pada masa krisis pandemi, kita mesti cermat dalam mengambil keputusan. Yang sudah pasti berang masih berlanjut sehingga harga minyak/oil naik. Akan tetapi di sisi yang lain bunga di turunkan sehingga insentif untuk berhutang meningkat dan menurunkan daya tarik rakyat untuk sekedar menyimpan uangnya di bank karena kecil bunganya. Lain cerita jika disimpen di portofolio lain yang bukan digerakkan bunga. Artinya harapannya bisnis dapat bergeliat, tetapi tentunya geliat bisnis juga harus sejalan dengan gairah konsumsi masyarakat. Bisa jadi dengan konteks modern saat ini, say's law tidak lagi relevan "Supply creates its own demand". Singkat kata, berkah selaluw. 


Comments

Popular Posts