Menjadi Negara Maju
Berwisata bisa jadi dilihat sebagai kegiatan yang menghabiskan banyak biaya. Tetapi jika dilihat dari perspektif yang berbeda, maka memang betul menghabiskan banyak biaya. Kendati demikian, berwisata adalah memutar waktu dan pandangan untuk keluar dari rutinitas, keajegan, stagnasi, dan juga kepenatan. Biaya yang dikeluarkan adalah mengakuisisi memori dan rasa yang tidak akan pernah terlupakan. Mungkin nama tempat, aktivitas yang dilakukan, maupun sejarahnya kita akan lupa cepat atau lambat. Tetapi rasa senang campur dengan panik ataupun pandangan yang berubah akan abadi di dalam jiwa. Sebagaimana orang terdahulu mengisahkan kegiatan mereka selain merebut kemerdekaan, juga tetap meluangkan waktu untuk berwisata. Hal ini tergambar dari lirik lagu Jawa “Prau Layar” yang berbunyi “Yo konco neng ndisik gembiro, ing dino minggu keh pariwisoto”. Ada yang belum tahu artinya ? silahkan bisa di googling.
Ya, baru saja kami sekeluarga pulang dari perjalanan wisata membelah benua Eropa, yakni Belanda, Prancis, dan Italy. Kita yang berasal dari negara berkembang selalu ingin menengok keluar bagaimana merasakan suasana negara maju. Tak ayal jika menjadikan negara Eropa menjadi sebuah destinasi.
Secara garis besar gaya tarik magnet yang saya rasakan untuk mengagumi negara maju ini bukan dari kekayaan sejarah budaya ataupun alamnya. Akan tetapi, warga dan tata kotanya itu sendiri yang secara apa adanya membuat kita kagum. “Apa sih bedanya sama Indonesia ?” merupakan pertanyaan yang selalu terbesit di benak saya.
Membandingkan perjalanan sebelumnya ke Jepang yang sama-sama negara maju, destinasi negara Eropa ini memberikan magis yang berbeda. Jepang menjadi negara yang dengan penuh daya upaya dari semua elemen agar menjadi maju. Sementara Belanda, Prancis atau Italy, menurut saya effortlessly maju. Dan setelah sedikit googling negara-negara di Eropa dan sedikit sejarah di negara tersebut. Saya menarik suatu benang merah kenapa disebut negara maju. Ya karena mereka sudah lebih dahulu menata negaranya dari pada kita. Ketika kita dijajah Belanda maupun Jepang. Belanda sendiri telah memikirkan arsitek gedung-gedung megahnya, bagaimana mempercantik area pedesaannya, bagaimana bisa bercocok tanam lebih baik. Ditambah jumlah penduduknya yang tidak sebanyak Indonesia.
Sementara itu tantangan Indonesia sudah lebih ketinggalan ketika merencanakan negaranya karena baru bangkit dari keterpurukan perang setelah merdeka 1945 dan penduduk yang dikelolapun jauh lebih banyak dan beragam. Dengan demikian, kita harus punya effort yang lebih untuk bisa mengimbangi negara-negara maju ketika mereka mempersiapkan negaranya menjadi maju.
Sementara disisi lain kita masih berkutat dengan biaya UKT yang tinggi, anak muda yang bengal, pejabat yang mengakali spesifikasi bangunan supaya dapet uang serimpilan ataupun pajak itu sendiri uang digelapkan. Padahal negara maju yang sudah lebih dahulu punya waktu mengotak-atik negara sudah membicarakan ekosistem energi berkelanjutan dan inovasi yang maju.

Comments
Post a Comment