Lebih Baik Diam
Di suatu pagi yang tidak begitu terang, saya termenung. Merenungi kenapa karir saya begini-gini saja. Melihat teman-teman di kantor sudah mulai tambah muda. Karena teman-teman yang tua seperti saya sudah cabut. Kalau ketemu teman-teman saya yang cabut, kita pasti topik obrolannya "mau cabut kemana lagi kita". Cabut cabut cabut.
Sepertinya jika kita fokus hanya memikirkan untuk keluar dari medan pertempuran, adalah sesuatu yang kurang bijak. Menurut quotes dari saya sendiri "Fokus pada diri sendiri lebih baik dari pada stadion jati diri". Maka dari situ, saya membaca artikel-artikel yang positif. Salah satu yang saya baca adalah artikel dari HBR (Harvard Business Review). Sebuah artikel bahasa Inggris tentunya.
Topik pembahasannya cukup berat. Saya membaca kita harus memperhatikan wangi badan, outfit, dan cara berjalan. Selain itu menghadapi orang yang begini, maka harus begitu. Saya pikir kenapa kok tidak practical sekali. Saya berharap bahasannya seperti misalnya kita harus bisa memiliki ide pembaharuan, punya inisiatif, dan sejenisnya. Setelah saya selesai membaca, saya bukan termotivasi, tetapi justru semakin tertekan. Baru menyadari bahwa artikel tersebut adalah tips meraih karir sebagai Board Member/C-Level. Hei! Malih! Ane aja masih kacung kampret. Jarak karir levelnya itu udah kayak jarak bumi ke bulan. Maka dari itu, saya menyadari arti quotes dari saya sendiri "Lebih baik diam"
Comments
Post a Comment