Ikut Orang Tua
Pada saat pandemi, saya tercetus ide untuk membuka bisnis. Hal yang sudah saya impikan dari dulu. Karena teman-teman saya sudah punya bisnis. Sementara saya, bisa bicara bisnis kalo mau naik kereta, atau bis, yaitu bisnis ac. Saya pilih membuka usaha galon karena di satu sisi bisa membantu memudahkan ketika saya kehabisan galon, meskipun di sisi lain rumah saya penuh dengan galon. Namanya juga bisnis jadi siap mulai dari 0. Dari yang sedikit menjadi banyak. Alhamdulillah galon makin banyak, tapi yang innalillah adalah pelanggan yang belum makin banyak.
Ditambah, di masa pandemi banyak orang yang kesusahan karena harus work from home atau adanya pemutusan hubungan kerja. Suatu hari saya didatangi sales dari bisnis galon saya. Kebetulan saya memilih agen dari Aqua. Selain ada programnya, aqua sudah dikenal namanya. Jadi enak kalo ditanya, "Jual aqua". Dia datang untuk memberi info bahwa dia sudah tidak di aqua lagi. Di satu sisi saya kaget, di sisi yang lain terus kenapa gitu. Awalnya saya skeptis, maksudnya gimana nih. Karena awalnya namanya juga sales aqua dia yang paling getol nawarin produk aqua. Saya pun menanyai balik, "Terus sekarang dimana mas". Beliau menjawab "saya ikut orang tua". Di sinilah hati kecil saya merasa iba, dalam hati mbatin "wah apa beliau ini kena badai pemutusan hubungan kerja ya". Tapi dia melanjutkan omongannya dengan "Bapak pindah crystaline aja Pak". Nah, disini saya mulai menyadari bahwa orang tua ini maksudnya parent bisnis dari Crystaline. Ditutup dengan wangalaikum salam, karena saya jualan aqua saja masih belum banyak yang beli. Nanti kalo jualan crystaline juga semakin saya terdesak posisi saya. Karena galon dirumah makin banyak, sementara yang minum di rumah ya itu-itu saja. Ruang gerak justru makin terbatas. Harapan cari cuan pun bisa pupus, bolehkah pinjem seratus?
Comments
Post a Comment